Jakarta,TAMBANG, Pertambangan watu bara saat ini sedang mengalami kurun susah. Harga salah satu sumber energy ini semenjak permulaan tahun terus melemah. Praktisi pertambangan Jeffrey Mulyono dalam diskusi Save Indonesian Coal (SIC) yang digagas Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) yang dilaksanakan secara Daring, di Jakarta, Senin (14/9).
“Kalau kini lebih soal supply dan demand dimana dengan adanya pandemi kebutuhan listrik bakal turun. Kita tidak mampu lakukan intervensi terhadap pasar. Namun jangka panjang ada tantangan lain seperti polusi yang ditimbulkan oleh pemanfaatan watu bara,”terperinci Jeffrey.
Ia menyampaikan meski ketika ini ada tekanan untuk secepatnya menghemat pemanfaatan kerikil bara sebagai sumber energi. Kemudian mengganti dengan energi gres terbarukan yang lebih ramah lingkungan. Namun hal itu menurut Jeffrey butuh proses karena butuh keseimbangan. Ada dua alasan yang disampaikan. Pertama bila dijalankan secara tiba-tiba pasti akan mengganggu keseimbangan. Hal kedua, hingga kini pengembangan energi terbarukan pun butuh proses.
“Oleh kesudahannya peralihan dari energi berbasis fosil mirip kerikil bara ke energi baru dan terbarukan butuh proses. Prosesnya bukan revolusi namun evolusi,”tandasnya.
Ia juga sepakat untuk mendorong hilirisasi kerikil bara. Menurutnya hilirisasi kerikil bara ini sendiri akan membuat pangsa pasar watu untuk domestik. Di saat PLTU mulai mendapat penolakan alasannya dinilai tidak ramah lingkungan, maka hilirisasi watu bara mampu menjadi pangsa pasar batu bara domestik ke depan.
Selama ini pasar domestik watu bara didominasi oleh PLN untuk PLTU, Smelter, Pupuk, Semen,Tekstil dan Kertas. Jika hilirisasi watu bara berjalan maka sektor ini akan menjadi pasar baru penyerap watu bara di pasar dalam negeri.