Analis: Banderol Kerikil Bara Industri Semen Pupuk Ancam Pasar Ekspor

Jakarta, TAMBANG – Harga watu bara dunia sedang mocer, menciptakan kinerja sejumlah emiten pertambangan di Indonesia ikut kebanjiran untung. Namun, peluang kenaikan harga berpeluang terganggu akhir regulasi pemerintah modern.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Martha Christina menjelaskan, kebutuhan kerikil bara dunia masih akan tinggi yang akan mengerek harga sampai puncak demam isu cuek ialah Januari mendatang.

“Kita lihat peningkatan saham saham komoditas seperti CPO dan kerikil bara masih akan berlanjut tapi sudah terbatas,” kata Martha dalam diskusi virtual di Youtube Mirae Asset, dikutip Jumat (5/11).

Terbatasnya kenaikan harga, sambung Martha, karena regulasi pemerintah yang berusaha mengintervensi banderol watu bara dengan memutuskan harga jual tertinggi di pasar domestik.

Menteri ESDM Arifin Tasrif sudah memutuskan harga jual watu bara untuk pemenuhan kebutuhan materi bakar industri semen dan pupuk di dalam negeri sebesar USD 90 per ton (MT) free on board (FOB) vessel yang didasarkan atas spesifikasi contoh pada kalori 6.322 kcal per kilogram, total moisture 8 persen, total sulphur 0,8 persen, dan ash 15 persen.

Kebijakan tersebut berlaku semenjak 1 November 2021 hingga dengan 31 Maret 2022 mendatang.

“Ancamanan itu kebijakan pemerintah, baik dalam negeri maupun kebijakan pemerintah negera tujuan (ekspor) yang mencoba menghalangi kenaikan harga komoditas,” paparnya.

Menteri ESDM meneken Keputusan Menteri ESDM Nomor 206.K/HK.02/MEM.B/2021 wacana Harga Jual Batu Bara untuk Pemenuhan Bahan Baku atau Bahan Bakar Industri Semen dan Pupuk di Dalam Negeri pada 22 Oktober 2021. Beleid itu diklaim dibentuk untuk menunjukkan kepastian pemenuhan kerikil bara dan mempertahankan daya saing industri semen dan pupuk di dalam negeri.