Bak Bumi dan Langit? Inilah 7 Perbedaan Sasis Hino Vs Mercedes Benz

 

Jakarta, Hinomobil.com – Mercedes Benz dan Hino merupakan dua merek sasis bus yang bisa dibilang cukup laku keras di Indonesia. Bila dibandingkan dengan merek-merek lainnya seperti Scania Volvo, Man maupun Golden Dragon.

Mercedes dan Hino paling banyak membanjiri Jalan raya di Indonesia. Kedua merek ini tentunya memiliki karakteristik masing-masing Mercedes Benz memang mempunyai citra yang sangat bagus sebagai produsen mobil mewah. Sedangkan Hino lebih terkenal sebagai produsen truk.

Nah apakah perbandingan kedua merek ini bagai bumi dan langit? Dari pada penasaran, mari simak tulisan kali ini karena kita akan membahas inilah 7 perbedaan sasis bus Mercedes dan Hino di Indonesia.

 

Di awal pembahasan kita yang berkaitan dengan harga yang ditawarkan oleh kedua merek bus tersebut, di pasar Indonesia harga sasis Hino dengan Mercedes Benz bisa dibilang tergolong kompetitif alias bersaing ketat.

Namun bila dibandingkan, sasis Hino lah yang paling murah di segmen big bus di Indonesia. Kita ambil saja contohnya misalnya yang paling laku sekarang ini di Indonesia, yaitu Hino R 260 yang berada di kisaran harga Rp 700 jutaan. Sedangkan Mercedes dengan kelas yang sama dibandrol menyentuh angka Rp 800 jutaan.

Selisih harga ini bisa dibilang cukup jauh sekali, sedangkan dari segi fitur dan spesifikasi hampir sama di kelasnya. Maka tidak heran banyak perusahaan otobus di Indonesia seperti perusahaan otobus pariwisata, perusahaan otobus yang baru terjun ke dunia transportasi bus, maupun perusahaan otobus laman banyak mempercayakan armadanya kepada stasiun bus Hino.

Kedua sasis bus tersebut sama-sama menawarkan kenyamanan dan kualitas yang tidak diragukan lagi. Maka sasis Hino sangat rekomendasi sekali bagi pengusaha dengan modal minim, atau yang ingin mencari untung dan tentunya semua pasti sudah ada hitungannya masing-masing.

Entah itu kelebihannya maupun kekurangannya. Ya tergantung dari perusahaan otobus yang bersangkutan. Namun di atas kertas pun, baik dari segi performa maupun dari segi keunggulan kompetitif lain di ditawarkan oleh pabrik Mercedes Benz masih lebih unggul bila dibandingkan Hino.

 

Perbedaan selanjutnya adalah negara pembuat dua sasis tersebut. Mercedes atau yang lebih dikenal dengan Mercy adalah sebuah perusahaan otomotif asal Jerman, yang produksi berbagai macam kendaraan seperti mobil, truk maupun bus.

Mercedes adalah salah satu perusahaan mobil paling terkenal di dunia dan juga perusahaan mobil tertua di dunia, yang bertahan sampai sekarang ini. Mobil yang mereka produksi terkenal dengan berteknologi dan memiliki tingkat kenyamanan yang tinggi.

Brand Mercedes resmi berdiri sejak 28 Juni tahun 1926, dengan kantor pusat saat ini di Jerman. Sedangkan Hino Motors atau yang lebih populernya dengan nama Hino, adalah sebuah perusahaan multinasional yang memproduksi mesin diesel truk dan bus. Sejak tahun 1973  perusahaan ini menjadi produsen truk medium dan truk heaven duty di Hino di Tokyo Jepang. Hino resmi berdiri pada tanggal 1 Mei tahun 1942 di Tokyo Jepang.

 

Trend model bus dengan double glass ini berawal di tahun 2015 oleh Karoseri Adiputro yang  sangat menarik perhatian. Sejak awal diperkenalkan kepada publik di ajang GIIAS 2015 lalu.

 

Saat ini hampir semua karoseri di Indonesia memiliki model bus dengan kaca depan yang terpisah ini. Dan juga bus double glass adalah bus yang paling laris dan memiliki nilai estetika yang paling bagus, bila dibandingkan dengan jenis lainnya.

Dari beberapa jenis yang beredar di Indonesia, sasis Hino di kelas bawah pun bisa dibangun body SHD ataupun body double glass. Hal ini berbeda dengan Mercedes Benz, kalau ingin bangun body double gelas , setidaknya harus tipe Mercy OH 1626.

Namun ternyata masih banyak yang bingung juga, kenapa sasis bus bermesin belakang Mercedes Benz yang kelas bawah seperti OH 1525 maupun OH 1526 jarang menggunakan body bertipe tinggi ataupun SHD.

Sementara sang lawannya itu, Hino EK8, kita tahu sudah banyak digunakan oleh operator bus di Indonesia dan berani dibalut dengan body SHD. Padahal secara spesifikasi sasis seperti OH 152 25 dan OH 1526, hampir mirip dengan Hino RK8.

Alasan utamanya, banyak kru dan owner dari perusahaan otobus, menyatakan kalau pihak Mercedes Benz Indonesia tidak memberikan lisensi untuk dibangun double glass saat pembelian.  Hal ini dikarenakan bisa mengganggu performa dan keselamatan dari sasis bus tersebut.

Walau demikian, namun tidak banyak juga perusahaan otobus di Indonesia yang modifikasi seperti OH 1525 maupun OH 1526 untuk dijadikan bus SHD ataupun double glass dengan catatan resiko ditanggung sendiri.

 

Perbedaan selanjutnya adalah tentang kapasitas penyimpanan oli. Di mana ini adalah bagian penting untuk menjaga performa dan suhu mesin dari kedua sasis bus tersebut.

 

Sasis bus Hino memiliki kapasitas tampung olive lebih sedikit daripada Seis Mercedes Benz.  Misalnya yang paling laku saat ini yaitu Hino RK8, kapasitas maksimal tampung olinya yaitu sebanyak 15 liter.

Sedangkan Mercedes Benz seperti OH 1526 hampir dua kali lipat daya tampung olinya Hino, yaitu 28 liter. Jadi Mercedes Benz tidak diragukan lagi bila diajak dalam perjalanan jauh sebab suhu mesin tetap stabil ataupun tidak overhead.

 

3. Kapasitas Beban

Mercedes Benz seperti OH 1526 dengan panjang sisi 11.500 mm ini, mampu menanggung berat kotor sebanyak 15 ton. Sedangkan merek Hino, misalnya yang paling laku saat ini RK8 yang memiliki total panjang sisi 11.270 mm ini, hanya mampu menampung beban sebanyak 14 ton saja.

 

Jelas OH 1526 mampu menampung penumpang dan bagasi lebih banyak bila dibandingkan Hino RK8 dan juga mampu menahan body buatan beberapa karoseri yang terkesan lebih berat, seperti karoseri New Armada, Karoseri Morodadi Prima maupun Karoseri Adiputro.

2. Perawatan dan Spare Part

Kalau berbicara masalah perawatan dan sparepart, jelas Hino lebih unggul. Sebab merek asal Jepang yang sejak awal fokus di segmen kendaraan komersial ini, di mana spare part casing busnya hampir sama dengan truk Hino.

 

Apalagi populasi truk Hino di Indonesia sangatlah banyak, kemudian untuk memperluas dan memperkuat area distributor produk Hino di kota-kota besar, maka dilakukan oleh PT Indomobil TBK dengan menggandeng perusahaan otobus sebagai mitra kerja dealer truk Hino di Indonesia.

Sehingga tidaklah mengherankan jika beberapa perusahaan atau bus seperti perusahaan otobus Mayasari Bakti, Hiba Utama, Arimbi, bahkan Sinar Jaya nyaris seluruh armada busnya didominasi oleh merek Hino.

Dari berbagai tipe yang dipasarkan di Indonesia alasan paling mendasar melalui kemitraan strategi merangkap sebagai dealer, truk Hino justru semakin mempermudah perusahaan otobus dalam hal ketersediaan pasokan spare part bus dalam jumlah banyak, guna kelancaran operasional dan pemeliharaan armada bus mereka.

Terlebih lagi part bus Hino memiliki banyak kesamaan dengan part truk Hino, dan harganya pun lumayan murah. Hal inilah yang menjadikan Hino lebih unggul kalau masalah perawatan dan spare part.

Dengan harga spare part original Mercedes Benz, terpaut cukup jauh dari spare part Hino. Dan dealer resmi Mercedes Benz tidak sebanyak dealer Hino, yang di mana dealer Hino bisa kita jumpai di kota-kota kecil, dan kalau misalnya terjadi masalah di tengah jalan Hino perawatannya mudah mayoritas kru bus bisa mengatasinya.

Berbeda lagi kalau Mercedes Benz, susah kalau mogok di tengah jalan, sebab sudah pada elektrik. Apalagi perusahaan otobus pariwisata seperti yang dikatakan oleh pemilik bus Hino RK8.

1. Euro 2 dan Euro 3

Perbedaan paling signifikan dari kedua sasis bus ini adalah pada teknologi emisinya. Hino RK8 masih menggunakan euro 2, sedangkan Mercedes Benz OH 1526 sudah menggunakan euro 3. Dari sisi teknologi RK8 jelas terlihat ketinggalan, begitu juga dengan efisiensinya.

Lihat isi silindernya Hino memberikan 7684 cc, untuk menghasilkan tenaga 260 PS. Sedangkan OH 1526 hanya perlu 6.374 cc, untuk mendapatkan tenaga 260 PS. Mercedes OH 1526 juga sudah menggunakan teknologi ECU untuk mengontrol pembakaran, sehingga dipastikan keakuratan dari takaran bahan bakar dan udaranya. Sedangkan Hino RK8 masih belum menggunakannya.

Di balik kecanggihan yang ditawarkan oleh pihak pabrikan Mercedes pada seri OH 1526,  kekurangan Hino RK8 ini menjadi kelebihannya di Indonesia. Dari segi bahan bakar ero 3 meminta solar dengan oktannya yang lebih dibandingkan dengan euro 2, yang di mana di Indonesia hanya dapat dipenuhi dengan Pertamina dex, bukan dengan solar Pertamina biasa.

Namun mahalnya Pertamina dex membuat pemilik perusahaan otobus memilih solar biasa, konsekuensinya penggunaan solar biasa haruslah sering ganti full filter. Padahal full filter mirip Mercedes hanya sekali pakai dan harganya pun tidak murah.

Sedangkan euro 2 sendiri tidak memerlukan bahan bakar dengan standar tinggi seperti euro 3. Jadi aman-aman saja dikasih dengan solar Pertamina biasa.

 

sumber : padangkita(.)com