Balitbang Esdm Lakukan Uji Coba Motor Listrik Hasil Modifikasi

Jakarta,TAMBANG, Kementerian ESDM tengah melakukan observasi dan perekayaan kepada sepeda motor berbahan bakar bensi menjadi sepeda motor listrik. Inovasi ini dijalankan Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (P3TKEBTKE), Badan Litbang ESDM.

Produk hasil observasi yang diberi nama e-Va ini telah dilaksanakan uji coba yang dihadiri oleh Plt. Kepala Badan Litbang ESDM, Dadan Kusdiana dan Kepala P3TKEBTKE, Hariyanto turut. Setelah mengendarai selama sekitar 15 menit, Dadan beropini tenaga motlis e-Va cukup kuat, bahkan dapat lewat tanjakan dengan mudah.

Hasil perekayasaan selama kurang dari satu bulan ini cukup baik, meski masih ada yang harus dipertimbangkan kembali, utamanya dari segi biaya adaptasi. “Perlu dicari cara semoga harga sparepart kendaraan dan baterei dapat lebih murah, sehingga mampu menekan ongkos modifikasi”, ungkap Dadan.

Kepala P3TKEBTKE menerangkan adaptasi motlis ini mengacu pada Peraturan Menteri Pehubungan No.  PM 65 Tahun 2020 perihal Konversi Sepeda Motor dengan Penggerak Motor Bakar menjadi Sepeda Motor Listrik Berbasis Baterai.

“Beberapa poin penting yang mesti dipatuhi yaitu daya motor listrik paling tinggi sesuai dengan klasifikasi selaku sepeda motor dengan isi silinder hingga dengan 110 cc, daya motor listrik konversi paling tinggi 2 kW (dua kilo Watt)”, sambung Hariyanto.

Koordinator Kelompok Pelaksana Penelitian dan Pengembangan (KP3) Ketenagalistrikan P3TKEBTKE, Slamet menerangkan KP3 Ketenagalistrikan melakukan adaptasi kepada konverter untuk menyambungkan kruk as pada transmisi, yang semula digunakan dengan motor bakar. Perubahan pada pegangan motor listrik pada rangka motor menggunakan plat besi.

Harga bagian suku cadang dan baterai yang digunakan pada penelitian merupakan harga eceran, sehingga perlu dijumlah dengan harga industri. “Modifikasi motor bensin menjadi motor listrik diupayakan tidak membutuhkan banyak perubahan sehingga lebih singkat waktu pengerjaannya, kurang dari satu bulan”, lanjut Slamet.

Tim peneliti yang dipimpin Arfie Firmansyah telah melaksanakan uji jalan kendaraan dengan rute di sekitar perkantoran P3TKEBTKE di Gunung Sindur, Bogor. Kendaraan yang dikendarai pengemudi ini menempuh jarak rata-rata sejauh 7,2 kilometer dengan kecepatan rata-rata 30 km/jam selama sekitar 15 menit. Kondisi jalan yang dilalui bervariasi, baik jalanan rata, naik maupun turun.

Selama pengujian, baterai diisi sarat dengan kapasitas 84 Volt dan kondisi baterei cut off 69 Volt sebagai tegangan batas bawah yang diseleksi, walaupun masih bisa di setting pada tegangan 63 Volt. Ini diubahsuaikan dengan metode kerja kontroller, sehingga rentang tegangan maksimum dan minimum yang lebar kian memperbesar jarak tempuh kendaraan.

Tegangan cut-off lazimnya diseleksi sehingga kapasitas maksimum yang memiliki kegunaan dari baterai tercapai. Tegangan cut-off berlawanan dari satu baterai ke lainnya tergantung pada jenis baterai dan rancangan kapasitas baterai. Sepeda motor yang dimodifikasi menggunakan tipe Vario yang diproduksi tahun 2010. Pertimbangan penyeleksian jenis motor ini dipilih menurut harga kendaraan dan data pemasaran ATPM selama 10 tahun terakhir.