Cara Pertamina Ep Menangani Persoalan Teknis Di Tambun Field

Jakarta, TAMBANG – PT Pertamina EP, lewat Asset 3 Tambun Field, memiliki wilayah operasi di Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat dengan produksi minyak bumi sebesar 1.799 BOPD dan gas sebesar 34,88 MMSCFD. Dalam proses bikinan di Tambun Field, isu tingginya impurities gas sungguh berefek pada mutu gas sales karena adanya kandungan hydrogen sulfide (H2S) yang fluktuatif (43 ppm sampai 120 ppm).

 

Untuk menangani duduk perkara ini, Tambun Field menggunakan chemical H2S scavenger melalui kontrak dengan pihak kedua melalui tata cara injeksi. Upaya menanggulangi impurities H2S tersebut ialah dengan mencari alternatif bahan yang mampu menghilangkan H2S baik secara abdorbsi maupun secara reaksi kimia.

 

“Dari studi literatur yang dilakukan ditemukan beberapa materi atau material yang mampu bereaksi dengan H2S,” ujar Wisnu Hindadari, Pertamina EP Asset 3 General Manager, melalui siaran pers yang diterima tambang.co.id, Rabu (30/10).

 

Menurut Wisnu, pada invensi ini ditawarkan suatu metode dan alat yang dapat dipergunakan selaku adsorber H2S dengan mempergunakan bahan-bahan Besi Oksida (Fe2O3), Kapur (CaCO3), Karbon Aktif, dan Air (H2O) sebagai bahan dasarnya dan akan membentuk camputan Burket (Bubur Lengket). Burket inilah yang mau dipakai sedemikian rupa sehingga pada balasannya dapat menangani impurities H2S tersebut.

 

Selain itu, inovasi yang dilakukan yakni redesign vessel idle (over capacity asset) menjadi multi ports spreading scrubber system sebagai media perfect contact antara gas yang mengandung H2S dan slurry (bubur). Desain ini sesuai dengan tolok ukur ASME Section VIII, Section IX, dan API 510 dan ASTM D 1072 Standard Test Method for Total Sulfur in Fuel Gasses.

 

Menurut Wisnu, inovasi ini berpeluang untuk  replikasi di lokasi lain yang memiliki masalah H2S sejenis, serta berpotensi besar untuk dikerjakan paten baik invensi slurry (burket) maupun desain vessel yang unik selaku kesatuan tata cara karena belum ada ditemukan metode yang sejenis di dunia migas. Sistem ini didesain sehingga metode operasi bikinan di Stasiun Pengumpul (SP) Tambun existing tidak terganggu sehingga volume bikinan gas yang dialirkan ke konsumen tetap tersadar.

“Sistem tersebut merupakan wangsit dari tim di Tambun Field,” ungkapnya.

 

Dia menerangkan, Pertamina EP Asset 3 awalnya mencari alternatif penyelesaian problem kandungan H2S yang tinggi (rata-rata 12,37 ppm) di Tambun Field. Pasalnya, ambang batas yang diperbolehkan untuk perjanjian perdagangan dengan konsumen sebesar 8 ppm. Awalnya H2S ditangani dengan tata cara injeksi chemical H2S Scavanger sebanyak 250 L/Day yang merupakan consumable cost.

 

“Tim kami pun melakukan studi literatur bahan-bahan yang mampu mengadsorbsi dan bereaksi secara kimia dengan H2S. Selanjutnya dilaksanakan riset dan uji coba kepada bahan-bahan tersebut dan mendapatkan adonan yang paling efektif sebagai adsrober,” ujarnya.

 

Wisnu menerangkan bahwa vessel adsorber H2S telah diimplementasikan semenjak April 2019 dan berhasil menurunkan ketergantungan chemical H2S scavenger dari 250 L/day menjadi 100 L/day. Karena itu, Pertamina EP Asset 3 Tambun Field mampu melakukan pengurangan chemical adsorber dari 250 L/day menjadi 100 L/day atau penghematan sebesar Rp 1,42 miliar serta pengurangan biaya vessel.

 

“Kami menggunakan vessel yang dimodifikasi, bukan menggunakan vessel yang dibeli sebesar Rp 1,275 miliar sehingga secara total penghematan per tahun sekitar Rp 2,69 miliar,” ujar Wisnu.