Di 2022, Pt Timah,Tbk Targetkan Reklamasi Darat Seluas 402,5 Hektar

Jakarta,TAMBANG,- BUMN pertambangan timah PT Timah,Tbk berkomitmen mengelola lingkungan berkesinambungan melaksanakan proses penambangan. Salah satunya dengan melaksanakan program reklamasi. PT Timah,Tbk secara konsisten melaksanakan reklamasi lahan bekas tambang yang dikerjakan di darat maupun di laut. Hal ini sejalan daerah operasional penambangan yang dikerjakan perusahaan ialah di darat dan bahari.

Tahun 2022 ini, PT Timah Tbk menargetkan untuk melaksanakan reklamasi darat seluas 402,5 hektar. Jumlah ini berkembangdibandingkan tahun 2021 lalu, dimana PT Timah Tbk sudah mereklamasi 400,51 hektar.

Reklamasi ini akan dilakukan di tujuh daerah ialah di Kabupaten Bangka seluas 135 hektar, Kabupaten Bangka Barat seluas 60,5 hektar, Kabupaten Bangka Tengah 12,5 hektar, Kabupaten Bangka Selatan 8,5 hektar, Kabupaten Belitung 26 hektar, Kabupaten Belitung Timur 68 hektar, serta Lintas Kabupaten seluas 92 hektar.

Untuk reklamasi darat yang hendak dilaksanakan PT Timah Tbk mengacu pada dokumen reklamasi yakni melaksanakan kegiatan revegetasi dengan penanaman. Jenis tanaman yang ditanam adalah fastgrowing seperti sengon laut, cemara bahari, dan jambu mente.

Lahan reklamasi PT Timah Tbk juga akan ditanami dengan tumbuhan produktif yaitu sawit, karet serta flora buah-buahan mirip jeruk, alpukat, dan kelapa bibit unggul.

PT Timah Tbk juga telah melaksanakan reklamasi terintegrasi yang terletak di Kampoeng Reklamasi Air Jangkang di Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka. Dimana Kampoeng Reklamasi Air Jangkang ini mengusung rancangan agro edu ecotourism.

Tak hanya di Kampoeng Reklamasi Air Jangkang, PT Timah Tbk juga membuatkan tempat reklamasi terintegrasi di Kampong Reklamasi Selinsing di Kabupaten Belitung Timur. Di sini lahan bekas tambang dikontrol menjadi aneka macam peruntukkan mirip lokasi pembibitan, penyemaian dan daerah peternakan.

Sedangkan untuk reklamasi maritim, PT Timah Tbk tahun ini menargetkan akan menenggelamkan sebanyak 1.920 unit artificial reef (karang bikinan) yang akan menjadi daerah ikan meningkat biak. Reklamasi bahari ini akan ditenggelamkan di 11 titik di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Penenggelaman artificial reef dilakukan di Pulau Panjang, Karang Rulak, Rambak, Perairan Tuing, Pulau Putri, Tanjung Melala, Malang Gantang, Tanjung Ular, Karang Aji, Pulau Pelepas dan Tanjung Kubu.

Sekretaris Perusahaan PT Timah Tbk, Abdullah Umar Baswedan mengatakan, PT Timah Tbk melaksanakan proses penambangan berkesinambungan, aspek lingkungan dan pengelolaan lahan bekas tambang menjadi salah satu prioritas perusahaan.

“Proses penambangan yang dilakukan PT Timah dikerjakan secara berkesinambungan dan mengikuti regulasi yang berlaku. Aspek reklamasi merupakan amanat regulasi. Selain itu juga PT Timah Tbk melakukan tanggungjawab pengelolaan lingkungan dengan melakukan penataan lahan bekas tambang,” terperinci Abdullah.

Ia memberikan, dalam melaksanakan reklamasi PT Timah,Tbk juga mempekerjakan masyarakat sekitar, misalnya masyarakat diajak terlibat untuk mempertahankan dan merawat tanaman di lahan bekas tambang.

Untuk reklamasi bahari, bahkan PT Timah,Tbk melibatkan kelompok nelayan sekitar untuk menciptakan artificial reef sampai penenggelaman dan perawatannya.

“Program pemberdayaan penduduk dikerjakan dalam beberapa bagan, seperti di Belitung Perusahaan bekerja sama dengan BUMDes untuk melakukan reklamasi bekas tambang. Kemudian dengan masyarakat juga contohnya penduduk menyediakan bibit flora perusahaan menggandeng Gapoktan. Sehingga reklamasi ini juga memberikan pengaruh ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.

Abdullah menyebutkan, kegiatan penambangan tak mampu dibantah mengubah bentang alam, untuk itu perusahaan semaksimal mungkin untuk meminimalisasi efek terhadap lingkungan dengan mengimplementasikan Good Mining Practices dalam proses bisnis perusahaan.

“Sebagai perusahaan pertambangan, kami menyadari adanya perubahan bentang alam, untuk itu perusahaan konsisten melakukan reklamasi dan mempertahankan keankeragaman hayati. Dalam proses produksi perusahaan selalu mengedepankan prinsip kehati-hatian untuk meminimalisasi imbas operasional,” tandasnya.