Dirjen Minerba Ungkap Kronologi Longsor Tambang Emas Di Mandailing Natal Sumut

Jakarta, TAMBANG – Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ridwan Djamaluddin mengungkapkan kronologi longsor yang menimpa tambang emas PT Sorikmas Mining, di Mandailing Natal, Sumatera Utara (Sumut) yang terjadi pada 28 April 2022 lalu.

Menurut Ridwan, lokasi kejadian bukan berada di wilayah operasi PT Sorikmas Mining, melainkan terjadi di luar wilayah kerja perseroan.

“Lokasinya, lokasi longsor ini berada di luar. Sekali lagi aku sampaikan berada di luar wilayah kerja perusahaan PT Sorikmas Mining,” kata Ridwan dalam Rapat Dengar Pendapat bareng Komisi VII dewan perwakilan rakyat RI, Senin, (23/5).

Ridwan lalu merunut kejadian nahas tersebut sampai risikonya mampu menelan korban jiwa. Menurut Ridwan, pada tanggal 28 April, sore hari sekitar pukul 15.00 Wib, penambang atau warga penduduk Desa Bandar Limabung berangkat menuju lokasi Sibinael untuk mencari butiran emas.

“Bahasa setempat mereka kan ‘meleles’ ialah upaya mereka untuk mencari butiran emas di lokasi tersebut. Kemudian sore hari tersebut,  sekitar pukul 15.30 Wib, aktivitas meleles telah mulai dijalankan di Lobang pendompengan (Lobung), istilah yang mereka gunakan,” ungkapnya.

Sebanyak 14 orang kemudian masuk ke dalam lubang untuk melakukan penggalian berbentukpengambilan bebatuan dan pasir yang mengandung butiran emas dengan menggunakan tumbilang, bejana dan dulang.

“Tidak berapa lama lalu, terjadilah longsor pada tebing lobung sehingga menimbun semua orang yang berada di Lobung tersebut. semuanya tertimbun,” bebernya.

Setelah insiden longsor, lanjut Ridwan, masyarakat di sekeliling lokasi menolong mencari para korban yang tertimbun dengan menggunakan perlengkapan seadanya yang mereka miliki. Setelah sukses dievakuasi, terdapat 12 penambang sudah tidak bernyawa dan 2 penambang dalam keadaan selamat.

“Kemudian pada pukul 17.30 Wib, semua korban sukses dievakuasi di mana 12 orang meninggal dunia dan cuma dua orang yang selamat. Tentunya doa kita bagi semua yang telah menjadi korban dalam kejadian itu,” tandasnya.

Sebagai berita, PT Sorikmas Mining ialah pemegang Kontrak Karya (KK) generasi 7 yang disahkan pada 19 Februari 1968 dan masih masuk pada regulasi Penanaman Modal Asing (PMA).

Saat ini, PT Sorikmas Mining sedang tahap operasi bikinan dengan aktivitas kontruksi daerah sebesar 66.200 hektar atau 33 persen dari luas KK semula yang sebesar 201.600 hektar. Kegiatan terfokus di lokasi proyek tambang emas Sihayo di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara.