Dirut Psab Edi Permadi; Ini Cara Mudah Cegah Covid-19 Di Operasi Tambang

Jakarta,TAMBANG – Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) menyelenggarakan sesi sharing secara online, Rabu (8/4). Tema yang diangkat kali ini terkait “Dampak Covid-19 Dan Strategi Pencegahan di Operasi Pertambangan”. Pembicara dalam agenda tersebut di antaranya Direktur Utama PT J Resources Asia Pasifik, Tbk (PSAB), Edi Permadi bersama Direktur Teknik dan Lingkungan Ditjen Minerba Kementerian ESDM, Sri Rahadjo serta Kepala Teknik Tambang dari PT Arutmin Indonesia dan PT Nusa Halmahera Minerals.

 

Edi yang menjadi pembicara kedua setelah Direktur Teknik Dan Lingkungan Ditjen Minerba Sri Rahadjo menekankan beberapa hal mudah yang mampu dikerjakan perusahaan tambang di tengah pandemik ini. Hal yang disampaikannya juga ialah apa yang sudah dikerjakan di seluruh anak usaha PSAB, termasuk di PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM).

 

Edi mengakui bahwa pandemi Covid-19 merupakan hal yang baru dan hampir semua perusahaan tambang belum punya pengalaman menghadapinya. “Virus ini sangat esktrim dan bernafsu penyebarannya,” ujar Edi.

 

Oleh hasilnya hal pertama yang harus dilaksanakan adalah mengenali huruf virus ini dan cara penyebarannya. Di tengah arus isu yang sungguh terbuka ini, Edi mengingatkan untuk tetap selektif menyaring isu. Selain itu mesti juga terus mengawasi kemajuan penemuan terupdate untuk mengatasi penyebaran dan cara penanganannya.

 

“Siapa sangka beberapa waktu kemudian ini kita dapat info bahwa ternyata penyebaran virus ini juga mampu melalui aerosol dalam ruangan ber-AC. Sehingga kemudian ada kewajiban untuk selalu menggunakan masker,”jelas Edi.

 

Di lokasi tambang berdasarkan Edi selain tolok ukur-standar operasional khusus terkait HSSE yang telah ada, perlu ada beberapa tambahan tolok ukur atau kaidah yang gres. “Tambahan kaidah tersebut lebih terkait upaya pencegahan dan penanganan pandemic Covid-19 ini. Sebagiannya sudah ada dalam Surat Edaran Dirjen Minerba perihal Pencegahan dan Penanganan Covid-19 yang dikeluarkan beberapa waktu kemudian,”terang Edi.

 

PT PSAB sejak Januari 2020 telah melakukan beberapa langkah antisipatif. Pihaknya sadar benar bahwa pandemik ini bakal menjadi tantangan cukup besar sehingga perlu menyusun beberapa skenario. Untuk karyawan yang melakukan pekerjaan di kantor sentra  di Jakarta, semenjak pertengahan Maret ditetapkan bekerja dari rumah (work from home).

 

Tetapi untuk yang bekerja di lokasi tambang tentu ada pengecualian sesuai amanat Pemerintah. Sektor pertambangan dan mineral ialah salah satu yang dibolehkan untuk tetap melakukan aktivitasnya.

 

Edi lalu menyebutkan beberapa langkah mudah. Dimulai dari pemetaan profil pekerja, mulai dari riwayat kesehatannya, kawasan asal, kondisi keluarga dan lingkup kawasan beliau berinteraksi. Pemetaan ini mesti dijalankan saban hari. Manajemen perusahaan diharapkan memiliki data kesehatan pekerja dan juga keluarganya. Bahkan mesti mengetahui suasana kawasan asalnya, apakah telah ada yang dalam status ODP, PDP bahkan yang sudah nyata Covid-19.

 

“Ini penting karena karyawan ialah aset terpenting dari perusahaan dalam kegiatan operasinya. Mereka harus mendapat pertolongan yang optimal,” tandas Edi.

 

Setelah itu dalam acara operasional perlu diperhatikan beberapa tawaran mirip social distancing atau kini ini lebih mengarah ke physical distancing. Ini telah mesti diterapkan mulai dari saat antrian masuk bis, dalam bis, turun dari bis, di check point dan dikala mangkir. Semua harus mempertahankan jarak alasannya adalah sifat pandemik ini dihentikan berdekatan,” ungkap Edi.

 

Hal lain yang juga tidak kalah penting mulai membangun budaya hidup bersih mirip sering mencuci tangan memakai sabun dengan cara yang sempurna. Sesuai tawaran dihentikan kurang lebih 20 detik. Diharapkan juga kebiasaan seperti ini tidak hanya pada karyawan tetapi ditularkan juga sampai ke keluarga. Karena kalau hingga ada anggota keluarga karyawan yang ODP atau PDP pasti bakal mensugesti operasional perusahaan.

 

Kemudian rutin dikerjakan pengecekan suhu badan pada setiap karyawan, mencari info ada tidaknya karyawan yang flu atau demam. Jika ada maka segera dikerjakan oleh dokter atau tenaga medis perusahaan. Penggunaan APD yang tepat patokan. Misalnya dalam ruangan diwajibkan memakai masker. Juga senantiasa diingatkan untuk tidak mengusapkan tangan ke paras , mata, mulut dan hidung.

 

“Semua itu mesti terus menerus diingatkan. Kita terus mendorong untuk lakukan personal hygienis sehingga mampu menjadi kebiasaan langsung dan keluarga,” ungkap Edi.

 

Di beberapa tempat secara rutin dilaksanakan penyemprotan disinfektan dan mengelap gagang pintu yang umum dipegang oleh pekerja, tergolong alat kemudi di kendaraan operasional. Lalu seluruh tempat umum yang selama ini digunakan untuk olahraga dan hiburan ditutup sementara. Fasilitas ibadah juga sholat Jumat dan ibadah Hari Minggu ditiadakan. Karyawan diminta melaksanakan secara perorangan.

“Karena di kawasan-kawasan ini berpotensi terjadi penyebaran virus,” tuturnya.

 

Edi juga menambahkan tentang perlakukan khusus bagi karyawan yang punya peran penting bagi kelangsungan operasi.  “Karyawan atau operator yang sangat prioritas dalam keberlanjutan operasi perlu dilaksanakan penanganan khusus mirip akomodasi khusus. Bahkan mereka akan diisolasi selama 14 hari bahkan sampai kondisinya aman,” kata Edi lagi.

 

Selain mengamati permasalahan internal perusahaan, komunikasi dengan stakeholder pertambangan juga perlu dikerjakan. Seperti komunikasi dengan Pemerintah Daerah. Ini terkait dengan arus keluar masuk barang dan juga orang. “Tidak semua karyawan yang bekerja di perusahaan tambang adalah orang setempat. Ada juga yang berasal dari luar tempat terlebih dari Jakarta yang jadi episentrum dari Covid-19. Ini perlu dikomunikasikan dengan Pemerintah Daerah sehingga tidak mengalami kendala,” terperinci Edi.

 

Di akhir paparannya Edi mengajar perusahaan dan juga karyawan di perusahaan tambang untuk punya kepedulian bareng membantu menanggulangi pandemik ini melalui acara-acara pemberdayaan masyarakat. “Kegiatan Corporate Social Responsibility atau Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang selama ini konteksnya lebih ke segi sosial dan ekomoni, sekarang diarahkan untuk membangun kesehatan masyarakat untuk keluar dari pandemik ini. Ini menjadi kerja kita bareng ,” tutupnya.