Geo Dipa Dukung Wujudkan Kemandirian Dan Ketahanan Energi Di Pulau Panas Bumi Flores

JAKARTA, TAMBANG – PT Geo Dipa Energi (Persero), perusahaan BUMN yang bergerak di bidang eksplorasi dan eksploitasi panas bumi, mendukung untuk merealisasikan kemandirian dan ketahanan energi melalui panas bumi yang terkandung di Flores, Nusa Tenggara Timur.

Direktur Utama PT Geo Dipa Energi, Riki Firmandha Ibrahim menerangkan bahwa Pemerintah, dalam hal ini Komite Bersama, telah sungguh sempurna meluncurkan acara Geothermal Energy Upstream Development Project (GEUDP), Pembiayaan Infrastruktur Sektor Panas Bumi (PISP) dan GREM (Geothermal Resource Risk Mitigation Facility) untuk Energi Terbarukan Geothermal atau Panas Bumi.

PT Sarana Multi Infrastruktur Persero (SMI) selaku pengurus dana PISP dan Geo Dipa sebagai pelaksana teknis pengeboran, menurut beliau mesti sukses dalam pelaksanaan program tersebut demi terwujudnya kemandirian dan ketahanan energi di Pulau Flores.

“Tidak ada kata tidak sukses melaksanakannya. Hanya dengan program GEUDP/PISP dan GREM, Indonesia dapat merealisasikan Indonesia Geothermal Center of Excellence alasannya adalah Pemerintah masih memiliki Fiscal Tool yang lain yang mampu mendorong pengembangan di tahapan Eksploitasi dan Pembangunan PLTP di Indonesia,” kata Riki dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (10/3).

Lebih lanjut, Riki mengungkapkan bahwa pemanfaatan sumber energi geothermal banyak menunjukkan manfaat bagi penduduk . Hal ini dikarenakan sumber energi panas bumi tidak dapat di ekspor, dan merupakan sumber energi setempat yang harus eksklusif dimanfaatkan.

“Melalui pemanfaatan sumber energi panas bumi sebagai energi listrik, akan menggerakan roda perekonomian masyarakat mirip pembangunan infrastruktur penunjang, sarana dan prasarana, hingga membuat ruang perekonomian baru seperti pembukaan lapangan pekerjaan dan pengembangan pariwisata,” paparnya.

Riki kemudian menyinggung Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, yang sementara waktu lalu sempat memberikan bahwa pemanfaatan panas bumi di Wae Sano yang juga berada di Pulau Flores, memiliki potensi panas bumi meraih 121 MW dengan cadangan sekitar 40 MW, telah menjalani proses secara sedikit demi sedikit dan berjenjang.

“Berbagai kajian juga sudah dijalankan, bahkan penduduk sudah terlibat dalam studi banding. Pengembangan pariwisata yang sedang dikerjakan oleh Pemkab Manggarai Barat juga mampu dikerjakan secara berdampingan dengan pemanfaatan panas bumi di Wae Sano,” jelasnya.

“Oleh sebab itu, pemanfaatan geothermal di Wae Sano harus kita upayakan bareng keberhasilannya, supaya Pemerintah tidak turunkan prioritasnya.  Tidak ada kata bahwa Program Pemerintah sulit diwujudkan apabila kita memang serius, konsentrasi dan yakin jikalau Energi Terbarukan Panas Bumi itu yakni Energi Terbarukan terbaik untuk Indonesia,” imbuhnya.

Selain itu, pemanfaatan geothermal sebagai sumber energi listrik juga dijalankan untuk mempertahankan ruang hidup. Hal ini dikarenakan geothermal ialah salah satu sumber energi terbarukan yang sangat ramah lingkungan dengan nyaris tidak ada emisi yang dihasilkan.

“Saya meyakini semua perjalanan yang telah dilakukanakan menawarkan pengalaman bagi kita bersama, alasannya adalah untuk mensukseskan pemanfaatan energi panas bumi di Wae Sano demi kemandirian dan ketahanan energi diperlukan kolaborasi dari semua pihak. Saat ini, yang dibutuhkan dalam percepatan pekerjaan di Wae Sano yakni dengan menunjukan bahwa rakyat Indonesia tidak ada masalah dengan pelanggaran HAM dalam pelaksanaan seluruh program multilateral bank,” ungkap Riki.

Sebagai isu, menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Pulau Flores menyimpan sumber daya sebesar nyaris 1.000 Megawatt (MW) dan cadangan paling sedikit sebesar 402,5 MW diekuivalenkan dengan listrik. Angka inilah yang kemudian mengakibatkan Flores ditetapkan sebagai Pulau Panas Bumi lewat Keputusan Menteri ESDM No. 2268K/30/MEM/2017.

Sementara itu, Wae Sano memiliki potensi panas bumi mencapai 121 MW dengan cadangan sekitar 40 MW. Wae Sano yang berada di wilayah Kabupaten Manggarai Barat, ialah salah satu pilot project dari pengeboran yang dilaksanakan oleh pemerintah (government drilling) melalui prosedur Pembiayaan Infrastruktur Sektor Panas Bumi (PISP) yang dananya diatur oleh PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) (“PT SMI”) dan co-finance lewat Geothermal Energy Upstream Development Project (GEUDP) yang pendanaanya diberikan oleh World Bank secara hibah.