Jakarta,TAMBANG, Harga watu bara terus memberikan penguatan. Bahkan kali ini mencatat angka tertinggi selama satu dekade. Kementerian ESDM memutuskan Harga Batu bara Acuan (HBA) bulan Agustus di angka USD130,99 per ton. Harga ini merupakan yang tertinggi selama satu dekade terakhir.
Sebagai berita, HBA adalah harga yang diperoleh dari rata-rata indeks Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt’s 5900 pada bulan sebelumnya, dengan mutu yang disetarakan pada kalori 6322 kcal/kg GAR, Total Moisture 8%, Total Sulphur 0,8%, dan Ash 15%.
Dalam keterangannya disampaikan menguatnya usul Cina, Jepang dan Korea Selatan menjadi penggerek utama harga batubara global.
“Melambungnya harga kerikil bara dunia dipengaruhi ekspresi dominan penghujan yang ekstrem di China yang mengganggu acara bikinan dan transportasi watu bara di negara tersebut. Sementara kebutuhan kerikil bara berkembanguntuk kebutuhan pembangkit listrik yang melebihi kapasitas pasokan batu bara domestik negara tersebut,” terperinci Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM, Agung Pribadi di Jakarta, Selasa (3/8).
Menguatnya harga lanjut Agung, juga didorong meningkatnya usul batu bara dari Jepang dan Korea Selatan yang turut menciptakan harga si emas hitam ini melonjak. Sebelumnya, pada Februari 2021 rekor HBA tertinggi dicatatkan sebesar USD127,05 per ton.
Sempat melandai pada Februari-April 2021, HBA mencatatkan kenaikan beruntun pada periode Mei-Juli 2021 hingga menjamah angka USD115,35 per ton di Juli 2021. Ternyata, kenaikan tersebut terus konsisten sampai bulan Agustus 2021 dengan mencatatkan rekor tertinggi gres.
Terdapat dua faktor turunan yang memengaruhi pergerakan HBA yaitu, supply dan demand. Pada aspek turunan supply dipengaruhi oleh season (cuaca), teknis tambang, kebijakan negara supplier, hingga teknis di supply chain seperti kereta, tongkang, maupun loading terminal.
Sementara untuk faktor turunan demand dipengaruhi oleh kebutuhan listrik yang turun berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor, dan kompetisi dengan komoditas energi lain, mirip LNG, nuklir, dan hidro.
Nantinya, HBA bulan Agustus ini akan dipergunakan pada penentuan harga batubara pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Vessel).