Indonesia Akan Terbitkan Perpres Penurunan Gas Rumah Kaca

Jakarta,TAMBANG, Pemerintah tengah menyiapkan regulasi terkait penurunan gas rumah beling. Aturan yang akan diterbitkan dalam bentuk Peraturan Presiden. Hal ini sidampaikan Menko Maritim dan Investasi Luhut B Pandjaitan dalam Webinar bertema Sustainability ExcecutifConnect yang diadakan oleh Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI). Tujuannya tidak lain menurunkan efek gas rumah beling.

“Nanti akan ada hukum turunan terkait upaya penurunan gas rumah beling. Dalam rancangan Peraturan Presiden tersebut telah ditentukan bagaimana menurunkan gas rumah beling,”terang Luhut.

Ia memastikan bahwa transisi energi menuju dari energi berbasis fosil menuju energi bersih telah menjadi gerakan global. Indonesia sebagai bagian dari penduduk dunia pun berpartisipasi. Bahkan Pemerintah telah mencanangkan gerakan menuju ke negara bebas karbon pada 2050.

“Pemerintah terus dorong watu bara untuk mampu bertahan di periode mendatang diantaranya dengan nilai tambah berbentukhilirisasi batu bara mirip gasifikasi, kokas, briket dan yang lain. Dukungan kebijakan untuk optimalkan nilai tambah telah dan akan terus diberikan,”tandas Luhut.

Sementara Ketua Umum APBI Pandu Sjahrir menyebutkan gerakan global dan impian Pemerintah Indonesia menuju rendah karbon negara bebas emisi karbon pada 2050 sebagai sebuah yang amat penting.

“Kami menyadari bahwa sepetiga dari emisi karbon berasal dari pembangkit listrik dari watu bara. Dengan adanya Omonibus Law dimana ada hilirisasi watu bara, itu akan mengembangkan efisinsi pembakaran. Sekarang pun dengan teknologi carbon capture, utilization and storage, sebagai industry kita akan meminimalkan jumlah karbon dioksida yang dilepas ke atmosfir,”terang Pandu.

Selain itu menurut Pandu perusahaan tambang juga telah melakukan banyak sekali langkah penting dalam meminimalisir efek gas rumah kaca. Mulai dari pemanfaatan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan seperti B30, mengambil alih genset di area pertambangan dengan photivoltaik, kemudian pemakaian teknologi Ultra Super Critical di PLTU sehingga lebih tinggi efisien dan ramah lingkungan.

“Kami sadar ini gres langkah awal. Langkah berikutnya adalah secara mindset kami diasosiasi sedang melakukan perubahan dan transrofasi yang besar,”ungkap Pandu.

APBI menurut Pandu dalam waktu bersahabat akan melakukan kajian bersama pihak ketiga. Ini terkait dengan kesempatan dari segi carbon credit dan carbon trading untuk para pelaku usaha di bisnis pertambangan. “Kami melihat dalam waktu bertahun-tahun ke depan aka nada transformasi yang amat besar di Industri kita dimana kita akan bersama Pemerintah akan merealisasikan negara dengan zero carbon,”tutup Pandu.