Induknya Terseret Perkara Jiwasraya, Smr Utama Susah Cari Pinjaman

Jakarta, TAMBANG – Anak Usaha PT Trada Alam Minera Tbk, PT SMR Utama Tbk mengaku kesusahan mencari derma untuk pembiayaan alat berat dan sparepart. Pasalnya, masalah korupsi Jiwasraya yang menyeret Trada Alam, membuat supplyer dan forum pembiayaan mulai membatasi kemitraan dengan SMR Utama.

“Dampak atas perkara hukum bagi perseroan dan entitas anak terutama dalam melaksanakan pembiayaan alat berat lewat forum pembiayaan. Sehingga planning entitas anak dalam peremajaan alat tidak berlangsung sesuai rencana yang menimbulkan pekerjaan tambang menurun,” ungkap Sekertaris Perusahaan SMR Utama, Arief Novaldi melalui keterbukaan berita di Bursa Efek Indonesia, Jumat (21/5) lalu.

Menurutnya, mitra pemasokbarang dan jasa meminta pembayaran di paras . Kemudian, sejumlah penyedia leasing alat berat juga menurunkan plafond pinjamannya.

Kondisi demikian membuat perseroan mengalami tekanan keuangan semenjak tahun kemudian. Ditambah lagi, pandemi Covid-19 yang mengakibatkan seruan kerikil bara di pasar domestik maupun ekspor menurun, sehingga pemain tambang watu bara ikut meminimalkan sasaran buatan lebih dari 50 persen.

“Ditambah lagi adanya pandemi Covid-19 yang mana menyebabkan kerugian bagi entitas anak perseroan. Sampai dengan kuartal III tahun 2020 harga watu bara terus mengalami penurunan,” tuturnya.

Saat ini, SMR Utama melaui anak bisnisnya, PT Ricobana Abadi menggarap dua konsesi tambang selaku kontraktor, ialah di PT Berau Coal area Lati dan Sambarata, serta di konsesi milik afiliasi perseroan PT Gunung Bara Utama.

Untuk Berau Coal, sambung Arief, menuntaskan kesepakatan penambangan di area Binungan pada selesai tahun lalu. Akibatnya, sejumlah pekerja terpaksa diterminasi dan dirumahkan.

Tahun ini, perseroan mencanangkan sasaran peroduksi sebesar 26,4 juta bcm overburden dan batu bara sebanyak 1,9 juta ton. Angka tersebut mengalami kenaikan kalau dibandingkan dengan tahun kemudian, yang total produksinya sebesar 19,3 juta ton bcm overburden dan 1,5 juta ton watu bara.

Untuk dikenali, Kejaksaan Agung sudah menetapkan sejumlah tersangka dalam masalah korupsi dalam pengelolaan keuangan dan dana investasi oleh Jiwasraya, tergolong Komisaris Utama PT Trada Alam Minera sekaligus Direktur PT Maxima Integra, Heru Hidayat.