Ini Pola Kerja “New Normal” Di Lingkup Kementrian Esdm

Jakarta,TAMBANG, Kementrian ESDM mulai merencanakan diri menerapkan contoh kerja “New Normal”. Salah satunya dengan melaksanakan Tapid Test secara terencana. “Rapid test ini dijalankan selaku screening awal dalam pencegahan dan penanganan Covid-19, sementara tes PCR (Polimerase Chain Reaction) dilakukan pada yang tes Rapid Test-nya reaktif,” jelas Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kementerian ESDM Endang Sutisna dalam siaran pers di Jakrta, Rabu (3/6).

Pelaksanaan tes PCR untuk yang terdiagnosa reaktif akan melakukan pekerjaan sama dengan Universitas Indonesia.  “Tes PCR nanti akan melakukan pekerjaan sama dengan Laboratorium Mikrobiologi Klinik (LMK) Universitas Indonesia dan dialokasikan sekitar 20 orang /hari apalagi dahulu,” lanjut Endang.

Endang yang juga menjabat Kepala Biro Umum Kementerian ESDM menyampaikan pelaksanaan rapid test ini diperluas secara masif bagi semua pegawai, meliputi Aparatur Sipil Negara, Pegawai Tidak Tetap dan Outsourcing dimulai tanggal 1 Juni 2020. “Kami mewajibkan semua pegawai yang Work From Office (WFO) nanti mengikuti tes ini dengan ketentuan kriteria yang sudah diputuskan,” ujarnya.

Beberapa kriteria yang ditetapkan oleh Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, yaitu batas usia pegawai di bawah 50 tahun, belum pernah mengikuti rapid test atau PCR dalam waktu 14 hari terakhir, tidak memakai kendaraan lazim dan tidak memiliki penyakit kormobid/penyerta yang tidak terkontrol, seperti asma, hipertensi, jantung, gula darah, dan penyakit lain yang rentan terhadap penyebaran Covid-19.

Kementerian ESDM juga merencanakan beberapa langkah taktis dalam menghalangi penyebaran Covid-19 di samping Rapid Test massal. langkah tersebut antara lain; Pertama, penerapan contoh higenis dan sanitasi lingkungan kerja. Tim gugus tugas akan melakukan general cleaning berupa penyemprotan disinfektan pada seluruh fasilitas dan prasarana lingkungan kerja kantor. “Pembersihan dilaksanakan berkala setiap 4 jam sekali utamanya sarana – prasanana yang sering digunakan bahu-membahu sekaligus memperhatikan sirkulasi udara dan sinar matahari,” tutur Endang.

Kedua, menawarkan tempat basuh tangan (wastafel) dan hand sanitizer sesuai kebutuhan. Selanjutnya, adanya pembatasan untuk penggunaan lift maksimal 5 orang dalam satu lift dan diikuti dengan pengaturan posisi. “Kami akan pisahkan untuk jalur tangga naik dan turun,” terang Endang.

Ketiga, mewajibkan penggunaan masker selama di daerah kerja dan pengukuran suhu tubuh sebelum memasuki gedung. Kelima, menerapkan pelaksanaan physical distancing dengan melaksanakan rekayasa engineering berbentukpemasangan pembatas bagi pegawai yang berkaitan dengan pelayanan.

Keempat, tim gugus peran akan melaksanakan pemantauan secara rutin kesehatan seluruh pegawai dengan memajukan mutu pelayanan poliklinik pratama di masing-masing unit dan menawarkan konsumsi sehat dan bergizi untuk pegawai yang melakukan WFO.

“Protokol kesehatan ini akan kami laksanakan secara ketat sesuai mekanisme yang ditetapkan demi menunjukkan kenyamanan selama bekerja dan memutus mata rantai Covid-19,” tutup Endang.