Inilah Enam Manfaat Dme Versi Pemerintah

Jakarta,TAMBANG, Meski proyek gasifikasi batu bara untuk menghasilkan Dimethyl Ether (DME) terus didorong Pemerintah, tetapi masih ada bunyi minor terkait proyek ini. Salah satunya terkait keekonomian dari proyek tersebut. Meski demikian Pemerintah meyakini produk DME sebagai hasil dari hilirisasi watu bara punya banyak manfaat.

Berikut setidaknya enam (6) manfaat DME versi Pemerintah yang disampaikan Tim Kajian Hilirisasi Batubara Badan Litbang Kementerian ESDM. Ditegaskan lagi bahwa proyek DME secara keekonomian layak dilakukan. DME ialah produk hilirisasi kerikil bara dapat mensubstitusi LPG yang ketika ini masih digunakan untuk rumah tangga. Kebijakan pemerintah yang perlu disiapkan untuk mendukung proyek ini antara lain yaitu kebijakan Harga Jual khusus Batubara, Harga Jual DME, dan Skema Subsidi DME.

Tim ini menegaskan proyek DME selain memperhitungkan faktor finansial juga akan menawarkan nilai tambah yang lebih luas kepada negara.

“Selain keekonomian proyek, setidaknya terdapat 6 poin imbas ekonomi dari hilirisasi batubara dengan kapasitas produksi sekitar 1,4 juta ton DME. Benefit ini mungkin belum banyak diketahui publik,” ungkap Plt. Kepala Badan Litbang Kementerian ESDM Dadan Kusdiana di Jakarta.

Berikut enam manfaat DME; Pertama, DME meningkatkan ketahanan energi nasional dan meminimalkan ketergantungan impor LPG. Dengan penggunaan DME, impor LPG mampu ditekan hingga 1 juta ton LPG per tahun, dengan kapasitas bikinan DME 1,4 juta ton per tahun.

kedua, menghemat cadangan devisa hingga Rp9,7 triliun per tahun dan meminimalisir Neraca Perdagangan sampai Rp 5,5 triliun per tahun. Kemudian ketiga, akan memperbesar investasi asing yang masuk ke Indonesia sebesar USD2,1 miliar (sekitar Rp30 triliun).

Manfaat keempat, pemanfaatan sumberdaya batubara kalori rendah sebesar 180 juta ton selama 30 tahun umur pabrik. Lalu kelima, adanya multiplier effect berupa manfaat pribadi yang didapat pemerintah hingga Rp 800 miliar per tahun

Dan keenam, pemberdayaan industri nasional yang melibatkan tenaga lokal dengan perembesan jumlah tenaga kerja sekitar 10.570 orang pada tahap konstruksi dan 7.976 orang pada tahapan operasi.

Hal ini sekaligus membantah kajian forum think tank yang menyebutkan bahwa kerugian tahunan proyek DME Indonesia mencapai USD377 juta. Tim kajian hilirisasi batubara, melakukan analisis dan konfirmasi kepada kajian lembaga think tank tersebut dengan Feasibility Study (FS) PT Bukit Asam (PTBA) yang mencatatkan bahwa secara keekonomian proyek DME menciptakan Net Present value (NPV) sebesar USD350 juta dan Internal Rate of Return (IRR) sekitar 11%. Sehingga proyek hemat dan tidak mengalami kerugian.