Jonan Harap Bali Jadi Daerah Energi Terbarukan Paling Maju

Jakarta, TAMBANG- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menyambut baik peningkatan penyediaan energi di Provinsi Bali dengan penggunaan energi bersih. Ia berharap daya mampu pasok listrik bali mampu mencapai 2.000 MW, dimana setengahnya berasal dari energi gres dan terbarukan (EBT).

 

Jonan menerangkan, saat ini daya bisa pasok listrik di Bali adalah 1.320 MW. “Saran aku dua saja. Pertama, tambahannya itu kan 700 MW. Makara 350 MW dibangun di Provinsi Bali, dan 350 MW lagi dipasok dari Pulau Jawa, dengan Jawa Bali Connection yang 500 kV. Harapan aku, 350 MW yang dibangun di Bali ini seluruhnya dari EBT,” ujar Jonan melalui keterangan resmi Kamis (22/8).

 

Yang kedua berdasarkan Jonan, perhiasan kapasitas EBT di Bali nanti khususnya dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan penggunaan Crude Palm Oil (CPO) pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). CPO atau yang dikenal sebagai Fatty Acid Methyl Esters (FAME) selain meminimalisir impor Bahan Bakar Minyak (BBM), penambahan FAME pada pembangkit juga ramah lingkungan.

 

“Di Bali saya kira Pembangkit Listrik Tenaga Surya bisa besar. Selain itu, PLTD tidak lgi memakai minyak diesel tetapi memakai minyak CPO. Itu hitungannya jadi EBT juga,” terperinci Jonan.

 

Sementara itu, Gubernur Bali I Wayan Koster mengatakan, Bali selaku destinasi wisata dunia mempunyai visi yang fokus membangun keseimbangan antara alam, insan dan budaya yang higienis.

 

“Dalam rangka pelaksanaan visi ini kami merencanakan skenario bali berdikari energi dan energinya ialah energi higienis. Kenapa mandiri energi? sebab Bali yaitu tujuan wisata dunia dan energinya harus bersih,” terang Wayan.

 

Kembali ke Jonan, menurutnya peningkatan konsumsi listrik di Provinsi Bali selaku ikon pariwisata Indonesia harus diimbangi dengan infrastruktur ketenagalistrikan yang mumpuni. Pembangunan pembangkit energi bersih yang memprioritaskan pembangkit dari EBT. Di Pulau Dewata juga perlu penguatan supaya metode kelistrikan menjadi lebih stabil, mengingat karakteristik pembangkit EBT bersifat intermiten. Untuk itu pemerintah akan menyatukan sistem kelistrikan Bali dengan sistem di Pulau Jawa, supaya layanan listrik lebih hebat dan konsisten.

 

Jonan berharap dengan kerja sama antara Pemerintah Provinsi Bali dengan PT PLN (Persero) terkait penguatan sistem ketenagalistrikan dengan pemanfaatan energi higienis ini mampu meningkatkan pembangunan pembangkit EBT di Pulau Bali, mengenang Bali mempunyai aneka macam kesempatanenergi pembangkit EBT yang mampu dikembangkan, mirip surya, geothermal, air, biomassa, angin, sampai arus bahari. Pengembangan ini juga memdorong tercapainya target bauran energi secara nasional dari EBT yang sebesar 23 persen pada tahun 2025.

 

Dengan adanya JBC lanjut Jonan, akan diperoleh manfaat seperti cadangan bersama tata cara Jawa Bali, bauran energi dan skala keekonomian, serta Biaya Pokok Penyediaan (BPP) tenaga listrik yang rendah alasannya adalah dapat menggunakan PLTU Ultra Super Critical di Jawa dan transmisi JBC 500 kV.

 

Sebagai informasi, rasio elektrifikasi di Provinsi Bali sudah meraih 100 persen. Sementara daya mampu pembangkit yang dihasilkan untuk keperluan pasokan listrik Bali sebesar 1.320 mega watt (MW), yang dipasok dari PLTU Celukan Bawang 380 MW, kabel maritim Jawa-Bali 400 MW, PLTDG Pesanggaran 182 MW, PLTG Pesanggaran 22 MW dan pembangkit BBM 336 MW.

 

Di samping pembangunan JBC 500 kV, kerja sama juga menampung rencana pengembangan dan pembangunan infrastruktur Hub LNG dan Terminal LNG di lokasi Gilimanuk, Benoa, dan lokasi lain di Provinsi Bali. Peningkatan kapasitas jaringan listrik menuju jaringan pandai (smart grid) untuk mengoptimalkan pemanfaatan dan pembangunan pembangkit EBT di Provinsi Bali juga diminta dapat berjalan dengan sesuai rencana. Diharapkan seluruh proyek ini cepat terlaksana, sehingga listrik dari energi higienis ini mampu segera dimanfaatkan untuk kendaraan listrik, kompor listrik, dan perlengkapan yang lain.

 

“Pemerintah sekarang mendorong penggunaan kompor listrik atau kompor induksi sebagai pengganti kompor Liquefied Petroleum Gas (LPG). Dengan energi listrik berasal dari sumber-sumber energi domestik, kompor listrik bisa meminimalkan impor LPG yang meraih 5 juta ton setahun,” pungkas Jonan.