Pemerintah Tunggu Hasi Studi Ulang Pengeboran Wkp Baturraden

Jakarta, TAMBANG – Pemerintah masih menanti hasil studi ulang PT Sejahtera Alam Energy (SAE), sehabis gagal mendapatkan uap geothermal di dua sumur pengeboran di WKP Baturrraden, sekitar wilayah Gunung Slamet, Jawa Tengah.

 

Direktur Panas Bumi, Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Ida Nuryatin Finahari, menyampaikan, PT SAE selaku pengembang panas bumi di WKP Baturraden memang belum mendapatkan panas bumi di dua titik sumur yang telah dijalankan.

 

“Belum mampu (geothermal), mereka bilang sedang review ulang. Kita tunggu kesudahannya,” kata Ida usai peluncuran The 7th IIGCE 2019 di Jakarta, pada Selasa (14/5)

 

Ida menjelaskan, ini memang menjadi resiko eksplorasi panas bumi. Meski ada studi awal yang menunjukkan titik potensi geothermal, tetapi sesudah dijalankan pengeboran, belum tentu juga mampu.

 

“Tantangannya seperti itu, eksplorasi belum pasti mendapatkan akibatnya. Contohnya mirip Baturraden ini, di sini kok gak dapat, pastia beliau (SAE) evaluasi setelah mengebor tidak mampu lagi. Studi ulang lagi untuk mencari titik mana yang lebih pas. Memang sperti itu resikonya,” tutur Ida.

 

Studi ulang pengeboran oleh SAE ini dikabarkan sudah kedua kalinya. Sebelumnya sesudah sumur pertama (Wellpad F) tidak didapatkan panas bumi, Ditjen EBTKE mendapatkan laporan  studi ulang yang kemudian dikerjakan pengeboran kembali di sumur kedua  (Wellpad H). Namun di sumur kedua ini pun, belum didapatkan potensi geothermal.

 

“Tidak mungkin jikalau mereka tinggalkan eksplorasi, sebab telah investasinya banyak. Itu resiko panas bumi. Sekarang masih tahap evaluasi, kita tunggu saja,” jelas Ida.

 

Hal senada dikatakan Ketua Umum Asosiasi Panas Bumi Indonesia  (API), Prijandaru Effendi. Menurutnya, memang benar SAE belum menemukan geothermal sesudah melaksanakan pengeboran.

 

“Mereka tidak mampu memperoleh cadangan yang bisa untuk jalan terus. Makara mesti kembali lagi mengolah data tersebut. Jadia da dua konseptual model, brdasar itu di bor titiknya, tenryata tidak sama konsptual model, tidak akurat. Kaprikornus mereka buat yang lebih baru lagi, mengkaji ulang,” kata Prijandaru.

 

Seperti dikenali, potensi geothermal di WKP Baturraden ini diperlukan untuk memenunuhi kebutuhan listrik 1.745 mega watt (MW) dari jumlah WKP yang dikala ini masih dalam tahap eksplorasi. WKP Baturraden diproyeksikan bisa menghasilkan energi listirk sebesar 220 MW.