Pertamina Ep Kembali Lepasliarkan Owa Jawa

Jakarta,TAMBANG, PT Pertamina EP melepasliarkan dua anak Owa ialah Ukong dan Gomey. Keduanya dilepaskan di di Kawasan Gunung Puntang. Keduanya merupakan pasangan keluarga Owa Jawa yang telah siap untuk dilepasliarkan setelah lewat periode habituasi selama tiga bulan.

Kegiatan pelepasliaran Owa Jawa ialah buah manis dari acara konservasi Owa Jawa yang dilaksanakan Pertamina EP Asset 3 Subang Field bekerja sama dengan Yayasan Owa Jawa serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia.

“Kerja sama konservasi Owa Jawa telah dilakukan oleh Pertamina EP Asset 3 Subang Field sejak tahun 2013,” ungkap Djujuwanto, Field Manager Pertamina EP Asset 3 Subang Field.

Selanjutnya Djujuwanto menyampaikan bahwa Pertamina EP mempunyai perhatian yang sangat tinggi kepada konservasi lingkungan dan satwa liar. Oleh alasannya itu, kegiatan konservasi alam dan lingkungan terus digiatkan oleh Pertamina EP.

Dadang Suryana, Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Bogor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menyampaikan upaya pengawasan selama satu tahun ke depan sehabis Owa Jawa kembali ke alam harus terus dilaksanakan.

“Ini hal yang penting, setelah pelepasliaran maka Owa Jawa harus terus diawasi untuk memastikan mereka berkembang biak, tidak dikejar untuk jadi hewan peliharaan, hutan tidak dirambah manusia untuk perkebunan dan perumahan. Kualitas ekosistem hutan harus ditingkatkan,” jelas Dadang.

Dadang menjelaskan Owa Jawa itu bukan hewan peliharaan insan. Mereka mempunyai tugas penting dalam peningkatan kualitas ekosistem lingkungan. Mereka akan menyebarkan biji-bijian dari buah yang mereka makan, dan secara tidak pribadi mempertahankan kelestarian hutan. Keberasaan Owa Jawa adalah indikator mutu hutan yang bagus.

“Dengan adanya owa di suatu hutan, mutu hutan untuk binatang lain juga akan lebih baik,” ungkapnya.

Kegiatan pelepasliaran merupakan bab yang krusial dalam tahapan pelestarian. Tantangan konservasi pun makin tinggi, mengingat Owa Jawa telah hidup di lingkungan alam bebas yang luas dan memutuskan satwa-satwa ini untuk dapat berkembang biak, tempat huniannya bebas dari perambahan hutan serta tidak menjadi sasaran dari perburuan liar.

Untuk menunjang keberhasilan terhadap konservasi Owa Jawa, Pertamina EP Asset 3 Subang Field sudah melakukan acara-aktivitas penunjang lainnya mirip edukasi Owa Jawa ke sekolah-sekolah, sampai pemberdayaan penduduk di sekeliling daerah habitat Owa Jawa.

“Kegiatan konservasi kami lakukan secara holistik, dalam artian hal-hal yang menjadi pendukungnya juga turut kita giatkan, untuk konservasi Owa Jawa, kami juga membentuk program Melintang (Masyarakat Peduli Alam Puntang),” terperinci Djudjuwanto.

Dalam acara Melintang, Pertamina EP Asset 3 Subang Field merangkul masyarakat yang tadinya bermata pencaharian berburu dan merambah hutan untuk merubah kebiasaannya dengan lewat acara perjuangan kopi dan rekreasi sehingga bisa meningkatkan perekonomiannya melalui perjuangan tersebut.

Djudjuwanto pun mengungatkan bahwa kegiatan konservasi Owa Jawa dan juga pemberdayaan penduduk , keduanya bisa berlangsung dengan sangat bagus. Owa Jawa (Hylobates moloch) merupakan jenis primata dengan estimasi populasi sekitar 2000-4000 individu di dunia. Untuk itu Owa Jawa pun masuk ke dalam daftar merah IUCN dengan status vulnerable atau terancam punah.

Persebaran Owa Jawa sekarang hanya terbatas di Jawa bagian barat, dan membuatnya spesies Owa yang paling langka di dunia.

Selain Ukong dan Gomey, terdapat empat individu Owa Jawa yang lain yang turut dilepasliarkan secara bertahap pada hari berikutnya. Owa Jawa lainnya tersebut adalah Labuan dan Lukas, serta Nofri dan Yossi. Keenam satwa ini mulanya merupakan peliharaan penduduk di Jawa Barat dan Banten yang diserahkan secara sukarela, serta hasil sitaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam yang dititipkan ke Yayasan Owa Jawa untuk direhabilitasi di Javan Gibbon Center Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Total, Pertamina EP Asset 3 Subang Field telah melakukan habituasi dan melepasliarkan sebanyak tiga puluh individu Owa Jawa di Kawasan Gunung Puntang semenjak tahun 2013. Dalam kegiatan rehabilitasi, habituasi hingga pelepasliaran, hal yang dilakukan ialah upaya-upaya untuk mengembalikan sifat-sifat liar Owa Jawa mirip mampu mencari makan sendiri, takut kepada insan, memiliki kemampuan untuk menghindar dari predator, dan pastinya berkembang biak.

Keputusan pelepasliaran keenam individu Owa Jawa ini pun didasarkan oleh pengamatan tim Yayasan Owa Jawa dimana dalam kegiatan hariannya sudah menyerupai aktivitas Owa Jawa liar. Setelah dilakukan pelepasliaran, Owa Jawa secara alami akan menjelajah kemudian setiap keluarga akan memiliki teritorinya masing-masing. Untuk itu, monitoring yang intensif juga dijalankan selama satu tahun, dengan melewati dua demam isu adalah hujan dan kemarau untuk melihat kemajuan Owa Jawa dialam bebas.

Keberhasilan pelepasliaran ditandai jika Owa Jawa mampu memperoleh dan mengkonsumsipakan alami di hutan, tidak terjadi pemisahan antarindividu, mampu membentuk teritori, hingga keberhasilan meningkat biak di alam bebas.

“Kami dari Pertamina EP Asset 3 berharap lewat seluruh aktivitas yang dikerjakan, eksistensi Owa Jawa mampu terus lestari dan keseimbangan alam tidak terusik. Selain itu agar Pertamina EP mampu memberi gagasan seluruh pihak untuk dapat bersinergi bersama, terutama dalam bidang konservasi sumber daya alam,” pungkas Djudjuwanto.

Dengan acara Melintang, Pertamina EP Asset 3 Subang Field yang merangkul masyarakat yang awalnya berprofesi sebagai pemburu dan merambah hutan, kini bertransformasi menjadi usahawan kopi dan tempat rekreasi. Lalu berkat acara ini, Pertamina EP Subang Field meraih Nusantara Award 2020 dalam klasifikasi Pengembangan Ekonomi Komunitas : Tinggalkan Berburu Liar dan Meramba Hutan, Sukses Jualan Kopi yang diberikan oleh The La Tofi School Of CSR pada 22/10/2020 kemudian.