Pln Operasikan Looping Sutt 150 Kv Lombok Senilai Rp 1,7 Triliun

Jakarta, TAMBANG – PT PLN (Persero) sukses mengoperasikan Looping sistem tegangan tinggi 150 kV Lombok senilai Rp 1,7 triliun. Keberadaan infrastruktur kelistrikan ini akan meningkatkan layanan PLN dalam menyanggupi kebutuhan listrik yang terus bertambah.

General Manager Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara, Wahidin mengatakan, pengoperasian Looping metode tegangan tinggi 150 kV Lombok ditandai dengan derma tegangan pertama pada metode jalur transmisi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV Switching – Tanjung, dan SUTT 150 kV Mataram Incomer.

Infrastruktur kelistrikan ini merupakan tata cara transmisi yang memiliki tegangan operasional 150 kV yang terhampar mengitari Pulau Lombok melintasi 5 Kabupaten/Kota.

“Looping sistem ini merupakan interkoneksi jaringan tegangan tinggi 150 kV selaku penghubung pembangkit-pembangkit yang ialah backbone penghasil tenaga listrik di sistem kelistrikan Pulau Lombok,” kata Wahidin dalam keterangannya, dilansir Rabu (15/6).

Wahidin mengungkapkan, Sistem kelistrikan dengan panjang 522 kilometer sirkuit (kms) ini ditopang oleh 861 tapak tower dan jarak antar tapak tower rata – rata 300 meter, serta di tunjang oleh 12 Gardu Induk dengan total kapasitas 800 Mega Volt Ampere (MVA). Untuk membangun Looping sistem tegangan tinggi Lombok ini PLN berinvestasi lebih dari Rp 1,7 triliun.

Menurut Wahidin, Looping jaringan tegangan tinggi interkoneksi antar gardu induk maupun antar pembangkit yang terinterkoneksi, akan mengembangkan keandalan pada sisi pelayanan pelanggan alasannya pembagian beban kelistrikan lebih stabil.

Untuk dimengerti, sistem kelistrikan pulau Lombok memiliki daya mampu sebesar 284,32 megawatt (MW) dengan beban yang ditanggung sebesar 271,06 MW. Dengan cadangan daya sebesar 13,26 MW, PLN siap menyambut investasi, dan pemenuhan keperluan listrik penduduk lazim secara baik.

“Infrastruktur ketenagalistrikan ini ialah Proyek Strategis Nasional yang merupakan acara besar pemerintah untuk menyanggupi kebutuhan energi listrik penduduk ,” tutur Wahidin.

Prioritas utama dalam pembangunan infrastruktur kelistrikan yang dilaksanakan PLN  ini ditentukan memperlihatkan berbagai manfaat di antaranya, kenaikan suplai listrik ke masyarakat, peningkatan keandalan tata cara kelistrikan, menjadi pendorong pelopor roda perekonomian masyarakat, pembangunan dan industri, serta terjadinya penurunan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) tenaga listrik.

Dia menuturkan, pembangunan ini dihadapkan oleh rintangan yang berat, bentang alam Pulau Lombok yang sangat menantang, akses tiap tapak tower yang mesti melalui hutan, pegunungan, kontur kemiringan yang terjal, dan tantangan sosial.

“Tantangan yg kami hadapi untuk merealisasikan amanah metode ini sungguh beragam, dari segi kontraktual, urusan sosial, dan kondisi pandemi, sehingga kami menyampaikan terimakasih yang tinggi kepada segenap pihak dan stakeholder yang turut berperan mensukseskan capaian pembangunan ini,” tutupnya.