Pln Siap Pasok Kebutuhan Listrik Industri Di Sulawesi Dengan Energi Hijau

JAKARTA, TAMBANG – PT PLN (Persero) siap memasok listrik yang mahir dari energi hijau untuk kawasan industri di Sulawesi. Hal ini sesuai dengan upaya perseroan mengejar target net zero emmision di tahun 2060.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, keperluan listrik di Sulawesi akan berkembangseiring dengan beroperasinya sejumlah kawasan industri di wilayah tersebut. Apalagi, di Sulawesi terdapat 3 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), yakni KEK Palu, KEK Likupang dan KEK Bitung.

“Untuk mendorong kemajuan investasi yang berdampak pada penduduk . PLN siap memenuhi kebutuhan listrik kawasan industri di Sulawesi,” kata Darmawan, dikutip dari informasi resmi, Sabtu (26/2).

Menurut Darmawan, PLN siap menyanggupi kebutuhan listrik kawasan industri di Sulawesi dengan energi hijau, mengenang kesempatanenergi baru terbarukan (EBT) di kawasan Sulawesi terbilang sangat melimpah, mulai dari sumber daya air, geothermal, tenaga bayu, dan yang lain.

“Potensi PLTA di Sulsel saja menurut data ESDM cukup besar, kalau dimaksimalkan dapat menghasilkan daya sengat sampai 2.946,8 megawatt (MW),” tuturnya.

Dia melanjutkan, dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030, secara nasional takaran penambahan pembangkit EBT sebesar 51,6 persen, lebih besar dibandingkan penambahan pembangkit fosil sebesar 48,4 persen. Khusus untuk kawasan Sulawesi akan dikembangkan pembangkit sebesar 783,09 MW.

“Tambahan pembangkit tersebut sebagian besar ialah pembangkit EBT meraih 397 MW atau 51 persen. Sementara sisanya pembangkit fosil sebesar 386 MW atau 49 persen,” ungkapnya.

Darmawan mengungkapkan, kebutuhan listrik di wilayah Sulawesi saat ini sebagian sudah dipenuhi oleh pembangkit listrik berbasis EBT, seperti di Sistem Sulawesi Bagian Utara ditopang Solar PV Plant di Sumalata dengan kapasitas 2 MW, Solar PV Plant Isimu 10 MW, Solar PV Plant Likupang 15 MW, serta PLTP Lahendong sebesar 120 MW.

  Untuk di Sidrap PLN mengandalkan PLTB dengan kapasitas 77 MW, sedangkan di selatan Sulawesi ada PLTB Jeneponto dengan kapasitas 66 MW. Wilayah Sulawesi Tenggara dan Selatan juga ditopang oleh pembangkit EBT, HPP Poso Peaker 515 MW, HPP Bakaru 126 MW, HPP Bili Bili 19,5 MW.

Pengoperasian pembangkit listrik berbasis EBT tersebut pun terus meningkat, dengan diresmikannya Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso dan PLTA Malea. Dua PLTA tersebut mengembangkan kapasitas terpasang pembangkit EBT di metode kelistrikan Sulawesi meraih 1,05 Giga Watt (GW) atau meraih 33 persen dari bauran energi Sulawesi. Pembangkit EBT di Sulawesi didominasi oleh PLTA sebesar 778,16 MW.

Selain itu, ada PLTS dengan total kapasitas terpasang 27,62 MW, PLTB dengan kapasitas terpasang 130 MW dan PLTP dengan kapasitas 114,80 MW.

Langkah ini juga sejalan dengan pembuktian pemerintah Indonesia sebagai tuan rumah konferensi G20. Indonesia berperan aktif dalam mengurangi emisi karbon dunia lewat kasar dalam membangun pembangkit listrik berbasis energi higienis.

“PLTA Poso dan PLTA Malea jadi bukti bantuan aktif PLN dalam meraih sasaran bauran energi nasional dan sasaran NDC dunia,” katanya.

Namun, dalam mengakselerasi pembangunan EBT, PLN tak bisa sendiri. Perlu adanya kolaborasi dan sinergi baik bersama BUMN maupun swasta dalam mendukung cita-cita NDC.

“PLN tidak bisa sendiri. Perlu sumbangan semua pihak. Kami terbuka atas keterlibatan dalam sisi investasi ataupun pendanaan, utamanya para peserta G20,” tutupnya.