Pln Siapkan Denah Keringanan Tagihan Listrik

Jakarta,TAMBANG. Terkait dengan unek-unek konsumen terkait peningkatan tagihan listrik, PT PLN (Persero) telah menyiapkan sketsa penghitungan tagihan. Menurut  pihak PLN bagan ini dimaksud untuk melindungi pelanggan pascabayar yang tagihan listriknya naik pada bulan Juni. Sehingga sehingga tagihan bulan Mei 2020 baru mampu diakses tanggal 6 Juni 2020.

“Dengan skema tersebut, pelanggan yang mengalami peningkatan tagihan pada bulan Juni sebesar sekurang-kurangnya20% dibandingkan dengan bulan Mei akibat penagihan memakai rata-rata tiga bulan terakhir, maka kenaikannya akan dibayar sebesar 40%, dan sisanya dibagi rata dalam tagihan 3 bulan ke depan,” terang SEVP Bisnis dan Pelayanan Pelanggan PLN Yuddy Setyo Wicaksono dalam siaran pers dari Kementrian ESDM, Jakarta, Selasa (9/6).

Langkah PLN ini disambut baik oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Ketua YLKI, Tulus Abadi pun meminta PLN mensosialisasikan sejelas-jelasnya terhadap mayarakat sehingga tidak ada salah pengertian. Menurutnya perlu penjelasan detail dan satu per satu terhadap pelanggan PLN agar semua mengetahui mekanisme ini. Metode-tata cara sosialisasi yang bisa dilaksanakan antara lain melalui media sosial, contact center dan aplikasi whatsapp yang dimiliki PLN.

“Perlu media briefing terhadap penduduk sehingga bisa rincian dijelaskan terhadap penduduk ,” kata Tulus.

PLN mengaku berkomitmen menyelesaikan pengaduan dengan mengoptimalkan Call Center 123 dan publikasi lewat media massa dan media umum. Harapannya dengan terobosan-terobosan yang dilakukan dalam pelayanan mampu lebih menawarkan kejelasan kepada publik.

Senior Executive Vice President Bisnis & Pelayanan Pelanggan PT PLN (PLN) Yuddy Setyo Wicaksono menepis informasi yang beredar di penduduk bahwa PLN mengoptimalkan tarif listrik. Menurutnya PLN tidak dapat memaksimalkan tarif listrik karena kebijakan ini mesti ditentukan oleh pemerintah dan menerima persetujuan dewan perwakilan rakyat.

Anomali kenaikan tarif listrik diakui terjadi terhadap beberapa konsumen, namun hal tersebut diakibatkan alasannya adalah tidak adanya petugas pembaca kWh meter di bulan-bulan awal pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Tujuan dilakukannya penagihan listrik di bulan April memakai rata-rata tiga bulan terakhir berdasarkan Yuddy yaitu dalam rangka menegakkan PSBB dan mendukung acara pemerintah memutus mata rantai Covid-19.

Yuddy mengatakan alasan meningkatnya tagihan listrik di masyarakat disebabkan alasannya adalah banyaknya acara yang dilaksanakan di rumah sehubungan kebijakan Work From Home (WFH). Adanya kenaikan tagihan rekening listrik pada pelanggan rumah tangga lebih disebabkan oleh meningkatnya penggunaan listrik masyarakat terutama pada bulan Mei yang memasuki bulan bulan mulia.

Mengenai peningkatan tagihan listrik bulan Juni, penghitungan tagihan listrik dilaksanakan dengan bantu-membantu. Petugas diupayakan turun ke lapangan disertakan adanya kelebihan listrik bulan April dan bulan Mei. Hal ini yang membuat tagihan listrik pada bulan Juni membengkak dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Terkait pengaduan akan peningkatan tagihan listrik tersebut Yuddy menyertakan bahwa PLN memiliki posko pengaduan dan contact center 123.

“Kalau menanyakan PLN ke 123 kami punya data, ID konsumen kita punya riwayat, kapan dicatat, ada foto dan kami bisa menerangkan,” jelasnya.

Yuddy juga menyebutkan bahwa ada 4,3 juta konsumen PLN yang mengalami peningkatan tagihan listrik sebesar 20 % selama bulan Mei. Ia pun menegaskan bahwa tidak ada subsidi silang dalam pembayaran listrik, apalagi peningkatan tarif, semua data tercatat tata cara dari pemakaian.

Saat ini PLN berkomitmen memperbaiki prosedur pencatatann tagihan listrik salah satunya dengan aplikasi PLN Mobile yang dapat diunduh di playstore. Yuddy menginginkan nantinya akan banyak pelanggan yang mengakses PLN Mobile sehingga dapat mempermudah PLN dalam memberikan layanan terhadap masyarakat. “PLN akan terus mengupayakan pelayanan terbaik dan fasilitas bagi konsumen,” tutupnya.