Plta Rajamandala Siap Pasok Kelistrikan Jawa-Bali

Jakarta, TAMBANG – Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Rajamandala 47 MW di Desa Cihea, Kecamatan Haurwangi, Cianjur yang telah beroperasi semenjak bulan Mei 2019 siap menyuplai listrik ke sistem interkoneksi Jawa-Bali. Pembangunan pembangkit energi baru terbarukan (EBT) ini sesuai dengan penetapan Rencana Usaha Penyedia Tenaga Listrik (RUPTL) PLN tahun 2019-2028.

 

“PLTA ini yakni salah satu upaya untuk mencapai sasaran 23 persen energi terbarukan pada tahun 2025. PLTA Rajamandala tidak hanya berkontribusi pada pasokan energi nasional namun juga berperan penting dalam menangani dilema pergantian iklim,” ungkap Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan, Harris, lewat informasi resmi, Senin (15/7).

 

Harris mengungkapkan, Pemerintah terus menggenjot penggunaan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan demi mengejar sasaran 23 persen penggunaan EBT dalam bauran energi yang tertuang dalam Kebijakan Energi Nasional. Pengoperasian PLTA Rajamandala adalah satu terobosan yang diharapkan dapat mengembangkan tata cara kelistrikan Jawa-Bali yang memanfaatkan energi terbarukan.

 

Pembangunan PLTA tersebut ialah proyek kerja sama antara PT Indonesia Power dan Kansai Electric Power Japan, yang membentuk PT. Rajamandala Electric Power (REP) dengan total nilai investasi sebesar USD150 juta dan memerlukan waktu sekitar tujuh tahun semenjak 2012 untuk solusi pembangunannya.

 

Harris berharap, tenaga air yang memanfaatkan Daerah Aliran Sungai (DAS), mirip Rajamandala di hilir Citarum ini mampu pula dikembangkan di daerah lain sehingga memperkuat ketahanan energi nasional. “Saya juga berharap bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Air Rajamandala mampu memacu penduduk untuk melaksanakan aktivitas produktif yang mampu memajukan kemakmuran penduduk dan menjadi acuan untuk pengembangan pembangkit listrik energi terbarukan lainnya oleh investor untuk membangun listrik di Indonesia,” lanjut Harris.

 

Harris mengingatkan, REP selaku pengembang mampu menjaga relasi yang serasi dengan masyarakat sekitar PLTA sehingga fasilitas ini dapat dipertahankan dengan baik dan menunjukkan faedah optimal bagi penduduk . Ia juga mendesak semua lapisan masyarakat untuk mempertahankan ekosistem sungai dan melindungi tangkapan air dengan menyingkir dari deforestasi. Hal ini dijalankan untuk mempertahankan keberlanjutan Pembangkit Listrik Tenaga Air Rajamandala dalam menawarkan pasokan energi listrik.

 

Pada kesempatan tersebut, Plt. Direktur Utama Indonesia Power M.Ahsin Sidqi menyatakan dukungannya pada upaya pemerintah dalam menggenjot penggunaan energi terbarukan demi ketahanan energi nasional dan komitmennya dalam pengembangan komunitas sekitar. “PLN dan Indonesia Power sungguh welcome dan komit dengan penggunaan Renewable Energy dan pengembangan komunitas,” ungkapnya.

 

PLTA Rajamandala ini nantinya akan memperkuat metode interkoneksi kelistrikan Jawa-Bali lewat transmisi 150 kV (kilo Volt) Cianjur-Cigereleng sekaligus sebagai back up metode kelistrikan terutama di daerah Kabupaten Bandung.

 

PLTA Rajamandala menjadi PLTA yang menggunakan Penstock terbesar di Indonesia dan Spiral Case berbahan beton pertama di Indonesia. Selain itu, PLTA ini juga ialah pembangkit berbasis air dengan waterway tata cara labirin pertama di Indonesia dengan diameter terowongan terbesar di Indonesia.